Kabar Berita Terbaru, Berita Viral, Berita update hari ini, Berita terbaru hari ini

VIRAL FOTO Kades dan Sekdes Berpelukan Tanpa Busana, Pasangan Bukan Suami Istri Ini Disorot Polisi


Berita Viral hari ini - Sedang viral foto Kepala Desa dan Sekretaris Desa Bolatena berpelukan tanpa busana dan menghebohkan warga setempat.

Kini, foto viral tersebut sedang diselidiki pihak kepolisian setempat, Polres Rote Ndao. Hingga berita ini diturunkan, Polres Rote Ndao belum menetapkan tersangka.

Mengetahui petingginya berfoto tanpa busana, warga Desa Bolatena, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao melaporkan penyebaran foto tersebut.

Foto itu memperlihatkan kepala Desa Bolatena yang sedang telanjang memeluk sekretaris Desa Bolatena yang mengenakan handuk.

"Kasus ini benar sudah dilaporkan, tapi dalam pendalaman atau penyelidikan," kata Kasubag Humas Polres Rote Ndao Aipda Anam Nurcahyo saat dihubungi Kompas.com (jaringan SURYA.co.id), Selasa (25/2/2020) siang.



Anam menjelaskan, warga meminta aparat penegak hukum menindak tegas oknum yang telah menyebarkan konten tak senonoh itu.

"Sampai saat ini, belum ada penetapan untuk siapa tersangkanya," katanya.

Polisi menerima laporan itu pada Rabu (19/2/2020).

Laporan itu tertuang dalam LP/14/II/2020/Polres Rote Ndao.

Polisi masih mendalami laporan tersebut.

Polres Rote Ndao akan menyampaikan perkembangan kasus tersebut dalam waktu dekat.

Pasangan tanpa busana di tenda

Berita lainnya. Sebuah video penggerebekan pasangan bukan suami istri sedang setengah tanpa busana di tenda saat naik bunung heboh di media sosial.

Penggerebekan dilakukan oleh sejumlah pria pendaki yang berada di dekitar tenda bercinta. Mereka memergoki seorang wanita yang ada di dalam tenda berselimut, tapi sudah tidak mengenakan pakaian.

Sedangkan untuk menutupi bagian atas badan, wanita itu mengenakan jaket. Adapun pria yang ada di dalam tenda tersebut sudah tidak mengenakan baju.

Para pria yang mengetahui itu langsung mendatangi tenda bercinta. Di antara mereka ada yang menarik selimut yang dikenakan oleh si wanita.

Pria lainnya ada yang membentak dan memperingatkan pasangan bukan suami istri itu agar tidak bercinta di gunung.

Ada juga yang merekam membuat video. Ironisnya, video itu pun disebar di media sosial. Sontak, tak lama kemudian, video itu pun viral.

Tersebarnya video bercinta di tenda itu mendapat tanggapan dari musisi dan penulis Fiersa Besari.

Menurut Fiersa Besari, mesum di gunung memang perbuatan yang salah, namun merekam dan menyebarkan video juga lebih salah.

Ia pun menyoroti adegan tarik selimut yang mengakibatkan sebagian tubuh si wanita terlihat.

Pasangan remaja itu kepergok sedang melakukan tindakan asusila di dalam tenda.

Tindakan yang dilakukan keduanya kemudian diketahui oleh pendaki lainnya.

Melihat hal itu, para pendaki lainnya kemudian menghampiri dan menggerebek isi tenda.

Dilihat dari video yang beredar di media sosial, pasangan itu berada di dalam tenda berwarna merah.

Kemudian terlihat beberapa pria di luar tenda melihat keduanya yang tampak setengah telanjang.

Bahkan ada pria yang ikut masuk ke tenda dan duduk di dekat pasangan mesum tersebut.

Sang wanita yang ada di dalam tenda terdengar merintih meminta mereka untuk pergi.

Wanita berambut panjang itu tampak menutupi tubuhnya dengan selimut.

Sementara pria yang ada di tenda bersamanya tampak tidak mengenakan baju.

Mendengar sang wanita berbicara, pria di luar tenda yang mengenakan topi dan kaus belang-belang tampak naik pitam.

Tanpa aba-aba, pria itu menarik selimut sang wanita dan terlihat wanita itu tidak mengenakan pakaian.

Ia hanya mengenakan jaket untuk menutupi bagian atas tubuhnya.

Melihat sang wanita setengah telanjang, pria yang ada di dalam tenda kemudian berusaha menutupi.

Ia menutupi tubuh si wanita dengan kausnya, kemudian sang wanita membalikkan badannya dan hendak mengenakan pakaian.

Bukannya memberikan ruang untuk keduanya berpakaian, pria yang ada di luar tenda malah terus menyaksikan keduanya yang terlihat susah payah menutupi tubuhnya.

Terdengar pria yang ada di luar membentak kedua pasangan tersebut.

"Makanya jangan hubungan badan di sini," kata pria berbaju belang sambil menarik selimut.

"Malah telanjang," kata pria lainnya.

Kemudian kedua pasangan itu juga diminta untuk segera mengenakan pakaian mereka dan mengemasi barang untuk turun gunung.

Bahkan, aksi itu juga direkam dan diposting di media sosial.

Tak ayal, video itu langsung viral dan jadi perbincangan di kalangan pendaki dan netizen di media sosial.

Hal itu membuat Fiersa Besari ikut berkomentar di Twitter.

Sebagai seorang yang sering naik gunung, Fiersa Besari mengaku sedih dengan adanya video tersebut.

Menurutnya melakukan perbuatan mesum di gunung itu salah, tapi yang dilakukan orang-orang di luar tenda itu jauh lebih salah.

"Entah Kawan-kawan sudah atau akan melihatnya,

tapi sedang beredar video penggerebekan pasangan mesum di tenda.

Sedih sih.

Mesum di gunung itu salah.

Tapi, menurut saya, selimut ditarik paksa, pelakunya dipermalukan, direkam, lalu di-upload ke medsos, itu jauh lebih salah," tulis Fiersa Besari.

Berdasarkan penelusuran TribunnewsBogor.com di akun Instagram @piknikkegunung, konon peristiwa itu terjadi di Gunung Prau.

Namun, ada yang menyebut juga kalau peristiwa itu terjadi di gunung di luar Jawa.

Sebab, pada video tersebut, percakapan anak muda itu menggunakan logat luar Jawa.

Penggerebekan pasangan tak sah

Sebelumnya, penggerebekan terjadi diCristanto Yuda Prasetyo (32) alias Babi, warga Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung dilumpuhkan dengan timah panas oleh anggota Buser Satreskrim Polres Tulungagung, Selasa (23/4/2019) sore.

Cristanto adalah terduga pelaku pencurian kendaraan bermotor di 12 TKP, yang selama ini dalam pencarian.

Ia juga sering keluar masuk penjara karena perbuatan kriminal yang dilakukannya.

Polisi juga menangkap penadah motor hasil curian, Zaenal Arifin (46) alias Zen, warga Desa Jatitengah, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar.

Dari keduanya polisi menyita tiga motor hasil curian, masing-masing Yamaha Aerox warna biru berplat palsu AG 4257 RAK, Honda Vario 150 warna hitam tanpa, dan Honda Sonic tanpa plat.

"Kedua tersangka sudah kami tahan dan barang bukti juga sudah kami amankan," terang Kasubag Humas Polres Tulungagung, AKP Sumaji, Jumat (26/4/2019).

Sebelumnya polisi banyak menerima laporan kehilangan motor dari masyarakat.

Atas dasar laporan itu, polisi melakukan penyelidikan.

Pelaku sempat terekam kamera CCTV saat mencuri di Kelurahan Jepun dan di Kelurahan Karangwaru.

"Dari dua TKP itu ada kesamaan pelaku. Sejak awal kami menduga, pelaku curanmor banyak TKP ini pasti orang yang sama," sambung Sumaji.

Berbekal gambar yang didapat dari CCTV, penyelidikan polisi mengerucut ke sosok Cristanto.

Pelacakan polisi terbantu, saat ada penggerebekan pelaku mesum di Desa Duwet, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Selasa (16/4/2019) malam.

Saat itu pelaku yang bukan suami istri dibawa ke kantor desa untuk didata.

"Dari kejadian itu kami curiga, pelaku yang digrebek itu adalah DPO yang kami cari. Tapi saat itu dia terlanjur sudah dilepas," tutur Sumaji.

Polisi yang mengecek ke Kediri mendapat kepastian, laki-laki yang digerebek itu memang Cristanto.

Polisi kemudian minta keterangan wanita yang digerebek bersama Cristanto, untuk melacaknya.

Dari keterangan teman wanitanya itu, Cristanto diketahui tengah berada di sebuah warung kopi di Nglegok, Kabupaten Blitar.

"Tim Buser kemudian berusaha melakukan penangkapan tersangka. Tapi saat itu dia kabur menghindari kejaran polisi," ungkap Sumaji.

Polisi kemudian menembak kaki kanannya. Cristanto kemudian diminta menunjukkan hasil curiannya.

Dari pengembangan itu polisi menangkap Zen sebagai penadah.

Ternyata keduanya sudah lama saling kenal, karena sama-sama pernah menjalani hukuman di Lapas Blitar.

Zen pernah dipencara dua kali, karena kasus pencurian kendaraan bermotor dan penadahan.

Sementara Cristanto mengaku 9 kali mencuri motor di Tulungagung, dua kali di Kabupaten Blitar dan satu kali di Kota Blitar.

"Jadi kalau ditotal tersangka ini sudah mencuri di 12 TKP berbeda. Dia dibantu temannya yang bernama Yudi," papar Sumaji.

Yudi sudah lebih dulu ditangkap, karena kasus narkoba.

Sedangkan untuk aksi di wilayah Blitar, Cristanto dibantu oleh N yang masih buron.

Satu motor dijual antara Rp 800.000 hingga Rp 3.500.000, terganteng merek dan tahun pembuatan.

Semua uang hasil penjualan sudah habis untuk bersenang-senang.

Dari tiga motor barang bukti, hanya Honda Vario 150 yang sudah terdeteksi.

Motor ini diketahui milik Kudhori (23), warga Desa Ringinpitu. Kecamatan Kedungwaru yang dicuri, Selasa (27/11/2018) silam.

Cristanto akan dijerat pasal 363 KUHP, tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman 7 tahun penjara.

Sedangkan Zen dijerat pasal 480 tentang penadahan, dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara.

"Kasusnya masih dikembangkan, karena kemungkinan ada TKP lain yang belum terungkap," pungkas Sumaji.
Share:

No comments:

Post a Comment

Tekan Tombol Follow untuk mendapatkan Update terbaru

Artikel Terpilih

Powered by Blogger.

Blog Archive